Jangan Sepelekan Kesalahan Kecil Anak Usia Dini

Anak tidak lahir tanpa arah. Ada fitrah yang Allah tanamkan sejak awal. Namun dalam perjalanan tumbuhnya, ia banyak dibentuk oleh apa yang ia lihat, dengar, dan alami — terutama oleh apa yang berulang kali ia temui di lingkungannya.

Jangan Sepelekan Kesalahan Kecil Anak Usia Dini

JANGAN SEPELEKAN KESALAHAN KECIL ANAK USIA DINI

 

Setiap anak lahir membawa fitrah. Rasulullah ﷺ bersabda: 

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

 (HR. Bukhari dan Muslim)

Anak tidak lahir tanpa arah. Ada fitrah yang Allah tanamkan sejak awal. Namun dalam perjalanan tumbuhnya, ia banyak dibentuk oleh apa yang ia lihat, dengar, dan alami — terutama oleh apa yang berulang kali ia temui di lingkungannya.

Dalam Montessori, kepekaan ini dikenal sebagai Absorbent Mind. Di usia dini, anak menyerap lingkungannya dengan daya yang luar biasa. Bukan hanya apa yang sengaja kita ajarkan, tetapi juga bahasa yang ia dengar, sikap yang ia lihat, cara orang dewasa menghadapi masalah, cara mereka memperlakukan satu sama lain, hingga nilai-nilai yang hadir berulang dalam kesehariannya. Maka anak tidak sekadar sedang belajar. Ia sedang menyerap. Dan apa yang terus ia serap, lalu terus ia lakukan, perlahan mengendap menjadi kebiasaan.

Charlotte Mason juga memberi pengingat penting: pembentukan kebiasaan adalah salah satu pilar utama pendidikan. Ia mengibaratkannya seperti rel bagi kereta — semakin sering satu jalur dilewati, semakin ringan kereta itu kembali melewatinya. 

Begitu pula anak. Kebiasaan baik membuat kebaikan makin mudah dilakukan; kebiasaan keliru yang dibiarkan membuat perilaku yang sama makin mudah diulang.

Karena itu, jangan terlalu cepat berkata: “Tidak apa-apa, namanya juga masih kecil. Nanti juga paham sendiri.”

Contoh: Anak yang hari ini sulit meminta maaf saat berbuat salah belum tentu memiliki masalah karakter. Tetapi... Bila setiap kali ia berbuat salah lalu dibiarkan — tanpa belajar meminta maaf dan bertanggung jawab — yang perlu kita cermati bukan hanya kesalahan hari ini, melainkan kebiasaan yang sedang terbentuk.

 

FASE USIA DINI MUDAH 'MENIPU' ORANG TUA

Saat masih kecil, anak umumnya terlihat "baik-baik saja". Tujuh tahun pertama lagi lucu-lucunya. Tujuh tahun kedua umumnya masih mudah diarahkan, mudah menurut, mudah dikoreksi. Kelucuan dan kemudahan ini kadang membuat orang tua lengah — tidak menyadari bahwa di baliknya, sebuah pola sedang diam-diam terbentuk dan akan terbawa ke fase berikutnya.

Dalam tradisi pengasuhan Islam, banyak orang tua mengenal gambaran tahapan tujuh tahunan: masa awal yang lekat dengan bermain dan pendampingan, lalu masa pembentukan dan pembiasaan, kemudian masa ketika hubungan bergeser menuju persahabatan dan kemitraan. Bagaimanapun rincian pembagiannya, pesannya satu: karakter tidak terbentuk dalam semalam.

Maka jangan menunggu anak masuk fase berikutnya baru kita serius memperhatikan karakternya. Bisa jadi di usia 7–14 tahun ia masih tampak mudah diatur, dan orang tua merasa semuanya aman. 

Sampai tiba masa remaja, dan orang tua terkejut: 

“Kok anakku jadi begini?”

Padahal sering kali menjadi sosok yang "begini" itu tidak datang tiba-tiba. Ia bermula jauh sebelumnya: 

  • dari hal-hal kecil yang dulu dianggap sepele, 
  • dari perilaku yang berulang tetapi tak pernah dibaca, 
  • dari pola yang sebenarnya sudah tampak namun luput dari perhatian.

Ini bukan berarti setelah anak besar semuanya terlambat. Tetapi semakin dini sebuah pola kita kenali, semakin luas ruang yang kita miliki untuk mendampingi dan menatanya. 

Karena itu, mendampingi anak usia dini perlu kita jalani dengan sepenuh kesadaran. Bukan hanya menikmati lucunya anak. Bukan hanya memastikan ia sudah bisa membaca, berhitung, dan mandiri. Tetapi juga berani bertanya: “Apa yang sedang terbentuk dalam dirinya?”

 

LALU, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

Perhatikan keseharian anak melalui tiga langkah sederhana.

1️⃣ Pertama, validasi. Pahami apa yang sebenarnya terjadi: apa yang ia lakukan, alami, dan katakan, serta bagaimana ia berinteraksi dengan teman, guru, dan lingkungannya.

2️⃣ Kedua, apresiasi. Ketika kebaikan muncul, jangan biarkan berlalu. Kenali, hargai, dan kuatkan. Sekecil apapun kebaikannya. 

3️⃣ Ketiga, koreksi. Ketika ada sikap yang belum tepat, jangan tunggu sampai ia menjadi pola. Urai, bicarakan, arahkan — bukan untuk menghakimi anak, melainkan untuk membantunya menemukan rel kebiasaan yang lebih baik.

Sebenarnya, membaca anak bukan keahlian khusus yang hanya dimiliki guru atau ahli. Ia bisa dimulai oleh setiap orang tua, dari rumah, hari ini juga.

Kuncinya sederhana: berhenti sejenak untuk benar-benar memperhatikan. 

  • Apa yang anak lakukan hari ini?
  • Bagaimana sikapnya saat keinginannya tidak terpenuhi?
  • Kebaikan apa yang muncul, dan hal apa yang masih perlu diarahkan?

Kita mungkin merasa sudah "hafal" anak sendiri. Tetapi keseharian bergerak cepat dan ingatan kita terbatas — apa yang tidak sempat kita catat sering kali terlewat begitu saja. Padahal... Justru dari hal-hal kecil yang teramati dan tercatat itulah kita mulai bisa membaca arah tumbuhnya. Maka mulailah dari yang paling mudah: satu-dua catatan kecil setiap hari, di buku atau di ponsel, di mana pun. Hal ini bukan untuk menghakimi anak, tetapi untuk mengenalinya. 

Dan bila kebiasaan mengamati ini dirawat bersama — di rumah dan di sekolah — hasilnya jauh lebih utuh.

 

PENTINGNYA CATATAN OBSERVASI ANAK

Catatan observasi bukan sekadar laporan aktivitas, dan bukan pula formalitas administrasi. Ini adalah alat bantu bagi guru dan orang tua untuk membaca kehidupan anak secara konsisten. Orang tua tidak mungkin menyaksikan seluruh keseharian anak di luar pendampingannya. Melalui Daily Report yang diisi oleh setiap guru pendamping di Al-Fath Montessori based Fitrah, orang tua dapat mengetahui apa yang anak lakukan, bagaimana ia bergaul, kebaikan apa yang mulai tumbuh, tantangan apa yang masih dihadapi, dan apa yang perlu dilanjutkan di rumah.

Lebih dari itu, Daily Report membantu kita membaca pola.

Bagaimana anak bercerita atas kejadian yang ia lalui?

  • Sudah sesuai fakta atau masih bercampur imajinasi? 
  • Bagaimana ia merespons saat berbuat salah? 
  • Bagaimana ia menghadapi teman? 
  • Apakah ia makin mandiri? 
  • Adakah perilaku yang terus berulang?

Satu hari mungkin hanya tampak sebagai satu kejadian. Namun bila diamati dengan konsisten, satu kejadian menjadi kecenderungan, dan kecenderungan menunjukkan pola — pola pada anak, pada lingkungan, pada cara guru merespons, pada cara orang tua menyikapi, bahkan pada cara kita menangani selama ini. 

Begitu pola terbaca, kita bisa bertindak sebelum segalanya menjadi lebih sulit.

Karena itu, mengisi Daily Report bukan pekerjaan tambahan yang boleh dikerjakan seadanya. 

Setiap catatan adalah bagian dari pengamatan; setiap pengamatan membantu kita membaca proses; dan setiap proses yang terbaca lebih awal memberi kita kesempatan untuk mendampingi dengan lebih tepat.

Kita tidak sekadar mencatat kegiatan harian anak. Kita sedang berusaha: 

1️⃣ Membaca perjalanan pembentukan anak, dan 

2️⃣ Melakukan perbaikan berkelanjutan atas setiap proses kita dalam membersamainya.

Sebab semakin dini polanya terbaca, semakin luas kesempatan kita menata arahnya. Dan mungkin, inilah salah satu bentuk ikhtiar kita menjaga amanah fitrah yang Allah titipkan.

Dan hanya kepada Allah kita bermohon dan berserah. 

Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a'yun, waj'alnā lil-muttaqīna imāmā.

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Semoga Allah menguatkan kita untuk terus bertumbuh sebagai orang tua, menumbuhkan fitrah anak-anak kita dalam kebaikan, dan menjaga mereka dengan sebaik-baik penjagaan-Nya. Aamiin.

Ayah Bunda, jika ingin melihat langsung bagaimana lingkungan Montessori berbasis Fitrah mendukung proses ini, kami mengundang Ayah Bunda untuk mengenal AFM lebih dekat melalui Trial Class. 

Datang, lihat, dan rasakan sendiri bagaimana anak belajar, berinteraksi, dan bertumbuh dalam lingkungan yang kami siapkan.

Trial Class AFM — setiap Jumat. Silakan hubungi kami untuk mendapatkan jadwalnya.

Al-Fath Montessori based Fitrah

Admin: 088-22224-1220

IG: montessoribanjar_jabar

Website: alfathmontessoribanjar.web.id