Jika semua pengalaman dalam hidup ternyata sedang membawa kita ke suatu tempat, ke mana perjalanan itu mengantarkan Anda?
Bagi saya, rangkaian itu bermuara di sebuah kota kecil bernama Banjar. Di sebuah ruang belajar bernama Al-Fath Montessori based Fitrah (AFM).
Assalamu'alaikum, Ayah Bunda. Perkenalkan, saya Irfa, founder AFM.
Mungkin, Tidak Semua Jalan Terlihat Arahnya Sejak Awal
Saya tumbuh bukan dari keluarga yang sempurna, tetapi dalam keluarga dengan cerita yang tidak sederhana. Sejak kecil, ada banyak kasih sayang. Tetapi ada pula banyak pertanyaan tentang keluarga, tentang rumah, dan tentang bagaimana sebuah keluarga yang hangat dan sakinah sebenarnya bisa dibangun.
Pertanyaan itu ternyata tidak pernah benar-benar pergi. Semakin dewasa, semakin terasa bahwa kebahagiaan terbesar sekaligus banyak luka terdalam manusia sering kali berakar dari tempat yang sama: keluarga.
Mungkin karena itulah, sejak dulu tumbuh dorongan untuk memahami manusia, kehidupan, dan bagaimana seseorang dapat tetap bertumbuh meski tidak selalu tumbuh dalam keadaan yang ideal.
Allah Hadirkan Kurikulum Kehidupan dengan Cara-Nya
Ibu berjuang begitu gigih untuk pendidikan anak-anaknya, bahkan sampai dua kali menjadi TKW.
Lulus SMK, perjalanan langsung berlanjut ke dunia kerja. Pernah menjadi buruh pabrik, SPG, satpam, dan berbagai pekerjaan lain—selama dinilai halal dan memungkinkan untuk dijalani. Setahun kemudian, kuliah S1 Ekonomi di Universitas Nurtanio Bandung sambil tetap bekerja.
Ada masa sekolah dan masa dewasa yang cukup berat secara emosional. Pernah berada pada titik yang sangat gelap dan kehilangan arah. Namun Allah selalu menghadirkan jalan keluar melalui orang-orang di sekitar.
S1 selesai. Tetapi ternyata, gelar dan pekerjaan belum otomatis membuat seseorang siap menghadapi kehidupan—sampai kembali berada pada titik yang sangat rendah.
Di situlah orang tua kembali hadir. Bapak mendorong untuk melanjutkan S2, dengan satu syarat: "Mondok sambil kuliah, bukan kuliah sambil mondok."
Maka berangkatlah ke Yogyakarta. Diterima di Universitas Gadjah Mada untuk menempuh S2 Manajemen Strategis, sekaligus menjalani pendidikan di Pesantren Mahasiswi Darush Shalihat—pesantren berbasis karakter, tempat berkumpulnya mahasiswi dari berbagai jurusan, kampus, dan daerah di Indonesia.
Di sana, bukan hanya belajar agama dalam arti mempelajari pengetahuan keislaman, tetapi belajar bagaimana agama bekerja dalam kehidupan—bagaimana nilai, adab, tanggung jawab, relasi, dan iman diterjemahkan menjadi cara hidup.
Awalnya, ke Yogyakarta hanya ingin menjalani satu tahap kehidupan lagi. Ternyata, justru di tempat inilah banyak hal yang selama bertahun-tahun kusut itu perlahan mulai terurai. Bukan hanya tentang ilmu, tetapi tentang cara menjadi manusia. Tentang emosi. Tentang keluarga. Tentang akhlak. Tentang relasi. Tentang spiritualitas. Tentang tanggung jawab. Tentang bagaimana kehidupan ini layak untuk dijalani, dimaknai, dan dinikmati.
Di sana, saya juga menemukan contoh keluarga yang sebelumnya begitu sulit dibayangkan: keluarga yang berusaha membangun sakinah, mawaddah, warahmah dalam kehidupan nyata. Rasanya seperti menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang. Oh… ternyata bisa seperti ini.
Dari sana lahir satu pemahaman: karakter tidak terbentuk hanya karena seseorang tahu mana yang benar. Karakter tumbuh dari apa yang terus-menerus ia lihat, jalani, dan hidupi.
Maka pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang berpengetahuan. Pendidikan perlu membantu manusia menjadi utuh. Mampu mengenali dirinya. Menyadari hubungannya dengan keluarga dan orang lain. Menyadari bahwa dirinya bagian dari dunia yang luas. Dan pada setiap prosesnya, menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah.
Dari Sana, Perjalanan Membawa pada Dunia Pendidikan
Latar belakang akademik saya bukan pendidikan. S1 Manajemen Keuangan. S2 Manajemen Strategis. Namun setelah lulus, Allah mempertemukan saya dengan dunia pendidikan melalui program kerelawanan Sekolah Literasi Indonesia, yang difasilitasi oleh Dompet Dhuafa Yogyakarta dan Dompet Dhuafa Pendidikan.
Setelah mendapatkan pembinaan, saya ditempatkan di Kabupaten Kulon Progo selama kurang lebih sembilan bulan sebagai konsultan Sekolah Literasi Indonesia. Bersama seorang rekan dan didukung oleh tim lembaga yang kuat, kami mendampingi 10 sekolah secara intensif, memberikan penguatan kepada kepala sekolah dan guru, serta terlibat dalam pelatihan dan pengembangan masyarakat. Dalam prosesnya, kami juga membangun kemitraan dengan berbagai entitas pendidikan, termasuk mitra utama Dinas Pendidikan Kabupaten Kulon Progo.
Ketika masa kerelawanan berakhir, dan program yang telah berjalan dinilai memberikan manfaat, hal ini membuka peluang untuk terus dikembangkan. Pendampingan pun berlanjut melalui kemitraan mandiri bersama Dinas Pendidikan. Dari sinilah kami mengembangkan program Sekolah Literasi Indonesia menjadi Moral Technology School, yang kemudian menjadi salah satu program unggulan Dinas Pendidikan Kulon Progo.
Pendampingan tidak berhenti pada menjadi trainer bagi kepala sekolah dan guru. Ada upaya untuk membangun kader penggerak—mendorong guru dan kepala sekolah tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi mampu membagikannya kembali dan menggerakkan perubahan di lingkungan masing-masing.
Karena semakin lama berada di dunia pendidikan, semakin jelas satu hal: perubahan yang berkelanjutan tidak bisa dibangun oleh satu orang. Guru perlu bertumbuh. Sekolah perlu bertumbuh. Orang tua dan masyarakat juga penting untuk bertumbuh. Karena anak membutuhkan lingkungan tempat nilai-nilai baik itu dihidupkan bersama, bukan sekadar diajarkan.
Lalu Allah Membawa Perjalanan Itu ke Banjar
Melalui proses taaruf, Allah mempertemukan saya dengan keluarga baru di Kota Banjar, Jawa Barat. Kemudian Allah menganugerahkan anak-anak. Dan ketika menjadi ibu, pertanyaan tentang pendidikan menjadi jauh lebih nyata.
Yang sebelumnya banyak dibicarakan dari sisi sekolah, kurikulum, dan kemampuan akademik, perlahan bergeser menjadi pertanyaan yang lebih mendasar: "Jika anak belajar dari seluruh kehidupan yang ia jalani, lingkungan seperti apa yang sedang kita bangun untuknya?"
Mungkin Ayah Bunda juga pernah bertanya:
- Apakah pendidikan cukup hanya membuat anak pintar?
- Bagaimana karakter, kemandirian, adab, dan keimanannya bertumbuh?
- Bagaimana menjaga rasa ingin tahu dan kecintaan belajarnya tetap hidup?
- Bagaimana menumbuhkan keimanan tanpa menggegas masa kanak-kanaknya?
Tetapi semakin perjalanan ini digali, muncul dua pertanyaan yang jauh lebih mendasar.
Pertama, bagaimana sebenarnya sebuah rumah tangga dapat bertumbuh menjadi tim? Bukan sekadar tinggal serumah dan sama-sama mencintai anak, tetapi bagaimana Ayah dan Bunda bisa saling memahami, saling menguatkan, saling melengkapi, dan berjalan ke arah yang sama dalam membersamai anak. Karena anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mencintainya. Anak membutuhkan orang dewasa yang mau belajar bekerja sama.
Kedua, bagaimana perjalanan pendidikan ini bisa menjadi sesuatu yang asyik untuk diperjuangkan bersama? Tidak berhenti sebagai tugas sekolah. Tidak menjadi beban satu guru. Tidak pula hanya menjadi urusan masing-masing keluarga. Bagaimana keluarga, sekolah, guru, dan masyarakat dapat saling terhubung dan saling melengkapi, sehingga kebaikan tidak perlu selalu menunggu arahan?
Ada yang melihat kebutuhan. Ada yang punya ilmu. Ada yang punya tenaga. Ada yang punya waktu. Ada yang punya sumber daya. Ada yang punya jaringan. Lalu semuanya bergerak mengambil peran masing-masing. Bukan karena diperintah, tetapi karena sadar bahwa memang begitulah kehidupan seharusnya berjalan: saling melengkapi dalam kebenaran dan kebaikan.
Dan mungkin, di situlah salah satu kegelisahan terbesar ini bermuara:
bagaimana membangun keluarga dan masyarakat yang tidak sibuk berjalan sendiri-sendiri, tetapi belajar berjalan bersama, saling menguatkan, dan saling melengkapi?
Karena anak-anak tidak hanya sedang belajar dari apa yang kita katakan. Mereka sedang menyaksikan bagaimana kita sebagai orang-orang dewasa menjalani kehidupan.
Dari Keresahan Menjadi Perjalanan Belajar
Ternyata, pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya ada di satu hati. Banyak keluarga sedang mencarinya. Banyak guru ingin belajar mendampingi anak dengan lebih baik. Dan semakin banyak orang tua menyadari bahwa pendidikan anak adalah perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sekadar menyiapkan mereka untuk masuk ke jenjang berikutnya.
Maka pencarian pun berlanjut. Setelah memiliki pengalaman mendampingi sekolah, muncul pertanyaan baru:
"Jika ingin membangun dan terus menguatkan lingkungan pendidikan, bagaimana caranya menciptakan lingkungan yang kita idamkan?"
Bukan hanya ruang kelasnya. Bukan hanya kurikulumnya. Tetapi seluruh ekosistemnya.
Perjalanan belajar kemudian membawa saya mengenal berbagai konsep pendidikan alternatif, termasuk Sekolah Alam. Saya mempelajari gagasan Lendo Novo, salah satu pelopor gagasan Sekolah Alam di Indonesia, kemudian memperdalamnya melalui pengalaman belajar bersama Sekolah Alam Yogyakarta untuk melihat bagaimana gagasan itu diterjemahkan dalam praktik.
Dari sana semakin kuat satu pemahaman: sekolah bukan sekadar tempat belajar. Sekolah adalah lingkungan hidup—tempat anak membangun identitas dirinya.
Semakin Belajar, Semakin Kembali pada Pertanyaan tentang Manusia
Pencarian itu membawa pada pendidikan berbasis fitrah, atau pendidikan aqil baligh. Berbagai seminar, workshop, buku, dan pembelajaran dari para tokoh pendidikan—termasuk almarhum Ust. Harry Santosa dan Ust. Adriano Rusfi—semakin memperkaya cara pandang tentang manusia, keluarga, akhlak, fitrah, dan perjalanan anak menuju kedewasaan.
Pendalaman tentang Islam, pemikiran Islam, kehidupan bermasyarakat, hingga bagaimana sistem kehidupan dan negara bekerja juga menjadi bagian dari perjalanan belajar. Bukan sekadar untuk mengetahui konsepnya, tetapi untuk memahami satu hal yang lebih mendasar: manusia tidak hidup sendirian. Ia tumbuh dalam keluarga, hidup bersama masyarakat, berada dalam sebuah sistem, dan kelak mengambil peran di tengah kehidupan yang lebih luas.
Karena itu, pendidikan pun tidak cukup hanya mempersiapkan anak menjadi "anak yang baik" di rumah atau "murid yang baik" di sekolah.
Anak perlu perlahan tumbuh menjadi manusia yang mengenal dirinya, memahami relasinya dengan orang lain, memiliki nilai sebagai pijakan, dan kelak mampu mengambil peran dengan versi terbaik dirinya.
Dan dalam perspektif Islam, semua itu bermuara pada kesadaran bahwa manusia adalah hamba Allah.
Maka keimanan menjadi bagian penting dalam pendidikan. Namun untuk anak usia dini, keimanan tidak dapat ditumbuhkan dengan menggegas mereka untuk bisa memahami dan langsung mau mengikuti seperangkat aturan yang Allah anugerahkan untuk orang dewasa.
Ia perlu ditumbuhkan sesuai fitrah dan tahap perkembangannya. Melalui keteladanan. Melalui hubungan yang hangat. Melalui kebiasaan baik. Melalui pengalaman nyata. Melalui rasa takjub kepada ciptaan Allah. Melalui perlahan-lahan mengenal siapa dirinya, siapa Allah dan Rasulnya. Dan kelak yang kita harapkan bersama, dengan kesadaran dan kebahagiaannya, ia antusias untuk lebih mengetahui dan mau menerapkan aturan Allah dalam setiap detail kehidupannya.
Karena iman yang ingin ditumbuhkan bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di kepala, tetapi kesadaran yang perlahan menjadi cara hidup.
Lalu, Bagaimana Menerjemahkannya dalam Keseharian Anak?
Di titik inilah Montessori kemudian diperdalam. Bukan sebagai pengganti pendidikan berbasis fitrah, tetapi sebagai salah satu pendekatan yang membantu menerjemahkan sebagian prinsip tersebut ke dalam lingkungan, aktivitas, kebiasaan, dan cara mendampingi anak usia dini. Saya mengikuti berbagai seminar dan workshop Montessori, baik daring maupun luring, bersama Montessori Indonesia.
Dan proses belajar ini tidak berhenti pada diri sendiri. Guru-guru AFM pun diajak belajar bersama, agar pemahaman tentang anak dan praktik pendampingannya terus diperkuat secara kolektif.
Semakin dipelajari, semakin terlihat dua kekuatan yang saling melengkapi: fitrah memberi pijakan dan payung tentang manusia dan arah pendidikan, sementara Montessori membantu menerjemahkannya ke dalam keseharian anak.
Perjalanan ini bukan tentang mencari metode yang paling sempurna, tetapi menjawab tanya yang terus berkecamuk: "Apa yang paling membantu anak untuk bisa bertumbuh sebagai manusia yang utuh?"
Belajar Tidak Berhenti di Satu Pendekatan
Mungkin Ayah Bunda juga pernah merasakan: semakin banyak belajar, justru semakin sadar bahwa kita belum selesai belajar. Itulah yang ingin kami jaga di AFM.
Perjalanan belajar terus diperluas. Saya melanjutkan perjalanan bersama komunitas Home Education based Akhlaq and Talents sebagai fasilitator nasional, memperdalam perspektif pendidikan dari sisi keluarga, akhlak, dan potensi anak.
Kemudian melalui TEMPA Trainers Guild, terhubung dengan para trainer dan konsultan dari berbagai bidang untuk terus belajar, berbagi, dan mengembangkan kapasitas.
Dan saat ini, perjalanan belajar juga berlanjut bersama komunitas Charmed, untuk mendalami pendekatan Charlotte Mason.
Setiap pembelajaran membuat kami semakin sadar bahwa pendidikan adalah perjalanan panjang.
Karena itu, AFM pun akan terus berkembang seiring perjalanan belajar kami. Belajar. Mencoba. Merefleksikan. Memperbaiki. Lalu belajar lagi. Bukan berganti-ganti identitas, tetapi terus memperkaya cara menerjemahkan nilai-nilai yang kami yakini ke dalam kehidupan anak sehari-hari.
Ternyata, Kita Tidak Sedang Berjalan Sendirian
Dalam perjalanan itu, satu hal semakin terasa: keresahan di satu hati ternyata bisa menjadi titik temu bagi banyak hati lainnya.
Allah terus mempertemukan saya dengan orang-orang yang tepat. Allah mengantarkan saya untuk belajar lebih dekat kepada para mentor pendidikan berbasis fitrah—di antaranya Ummi Rita Riswayati dan Abi Natsir Muhammad. Mereka tidak hanya berbagi konsep, tetapi juga membersamai proses menerjemahkan nilai-nilai itu ke dalam keseharian. Merekalah pasangan local hero pendidikan berbasis fitrah—atau pendampingan aqil baligh—Kota Banjar.
Selanjutnya, mereka kami jadikan sesepuh komunitas. Dan komunitas itu terus bertumbuh: tidak hanya mendampingi fase penumbuhan fitrah anak usia dini, tetapi juga ikhtiar yang telah berjalan sebelumnya. Salah satu programnya adalah recovery fitrah—sebuah pendekatan khusus untuk mendampingi anak usia SD, SMP, dan SMA sederajat, sekaligus orang tua yang tengah menghadapi kesulitan dalam pengasuhan, pendidikan, dan pengajaran.
Ragam kasusnya tidak sedikit. Ada yang datang karena memang sudah memahami urgensi pendidikan berbasis fitrah. Namun ada pula yang hadir justru karena berangkat dari kesulitan tadi.
Tidak sedikit yang datang membawa anak yang mogok belajar, tidak mau lagi ke sekolah. Ada yang mengalami amnesia karena ujian fisik. Ada yang karakternya telanjur terbentuk menjadi pribadi yang malas-malasan. Ada yang di sekolahnya sudah dicap nakal. Bahkan ada yang sudah rutin mengonsumsi obat dari psikiater. Perlahan, Allah izinkan semuanya bertumbuh dalam kebaikan.
Tanpa berniat menghakimi, dari sanalah justru kami banyak belajar dan mengambil hikmah—termasuk dari pengalaman saya sendiri, yang pernah cukup dalam merasakan bagaimana rasanya ketika mental drop dan kehilangan arah.
Dan satu hal yang sangat membekas: memperbaiki karakter yang telanjur tumbuh ke arah yang keliru, jauh lebih melelahkan daripada menumbuhkannya dengan benar sejak awal.
Tindakan kuratif sangat-sangat menguras waktu, air mata, dan kesabaran bertahun-tahun—bahkan bisa lintas generasi. Sementara tindakan preventif, yang kita perjuangkan sejak usia dini, adalah ikhtiar yang jauh lebih ringan untuk diupayakan.
Karena itu, apa yang kita tanamkan di masa dini bukanlah pengeluaran. Ia adalah investasi—yang paling berharga yang bisa diberikan orang tua kepada anaknya. Yang kita tanam hari ini akan kita tuai seumur hidup, bahkan lintas kehidupan yang tak berujung. Sebuah tanggung jawab akhirat.
Selain mentor, Allah juga membekali kami dengan tim guru yang luar biasa—yang mau belajar, mencoba, mengevaluasi, dan berproses bersama.
Allah juga mempertemukan kami dengan keluarga-keluarga yang percaya.
Dan Allah menghadirkan para malaikat tak bersayap—orang-orang yang mungkin tidak selalu terlihat atau terpublikasi, tetapi mendedikasikan harta, doa, tenaga, ilmu, waktu, kepercayaan, dan dukungan agar AFM dapat dimulai, berjalan, dan terus bertumbuh.
Karena memang, pendidikan tidak pernah menjadi pekerjaan satu orang. Ini adalah ikhtiar bersama.
Maka hari ini, AFM bukan lagi cerita tentang satu orang.
AFM adalah Cerita Bersama
Setiap orang tua menyimpan satu kekhawatiran besar yang jarang diucapkan: sudahkah yang kita berikan hari ini bisa membekali anak kita untuk tangguh menghadapi hidup? Bukan hanya cerdas—tetapi kuat, berkarakter, dan teguh berpijak pada imannya.
Pertanyaan itulah yang menggerakkan seluruh perjalanan ini dan perjalanan kami yang akan datang.
Dan mungkin, pertanyaan ini pula yang selama ini Ayah Bunda bawa?
Mari berjuang bersama.
Al-Fath Montessori based Fitrah
Bertumbuh sesuai Fitrah, Berkembang dengan Cinta.